Home » Alumni on Writing » Yasmin University

Yasmin University

EZ Institute Twitpic

Ninuk Budiarini, penulis buku "Muridku Guru Terbaikku"

Ninuk Budiarini, penulis buku “Muridku Guru Terbaikku”

Oleh: Ninuk Budiarini *)

“Harus dipaksa dan dilebih-lebihkan. Harus dimulai sekarang, oke? Deal? Ayo tos.”

Kalimat “pemaksaan” yang disuarakan olehsalah satu teman pada acara makan malam di “Kampus Yasmin, Bogor.” Jam masih menunjukkan pukul 18.15, dan pikiran masih segar karena dua jam istirahat yang diberikan oleh panitia.

Tempat ini memang jauh, sangat jauh dari hiruk pikuk kota besar Jakarta, tetapi jauhnya tidak membuat sedikit pun rasa sesal telah mendatanginya. Udara segar, dingin tidak seberapa. Hujan juga tidak setiap hari ada, indahnya suasana memuat kami suka. Sengaja tempat ini jadi pilihan untuk menampung segala rasa, cita dan dendam tak terbayarkan, agar terealisasi dalam bentuk tulisan yang akan melahirkan kesadaran.

Yasmin hanyalah sebuah bangunan yang dirancang oleh manusia, akan tetapi keberadaannya menjadi saksi lahirnya sebuah “kepercayaan diri.” Ia tidak bisa berbicara, tetapi ia menyuguhkan fakta. Bahwa kepercayaan diri akan muncul bila didukung oleh tiga unsur: Ruang, Waktu, dan Pengakuan.

Delapan pasang mata telah menyaksikannya. Aku yang selalu dianggap oleh lingkungan “tidak bisa/tidak mampu/tidak berani,” kali ini ingin berdiri, tampil percaya diri. Ah! Suatu hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Mereka memberi ruang, tempat aku belajar, bukan hanya belajar menjadi penulis, tetapi belajar berbicara. Bagi sebagian orang mungkin ini hal biasa, tetapi bagi saya yang usia 54 tahun, menjadi hal yang luar biasa. Perlu perjuangan keras untuk berani tampil di depan para pakar di bidangnya masing-masing. Tidak mudah, panas dingin, berkeringat, dan dada bergelombang dahsyat sekali. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana perjuanganku.

Tak kalah pentingnya waktu. Andai teman-temanku yang menjadi guru melarang aku meminta waktu, maka saat itu aku akan mati kutu. Kesempatan hilang, terbang, dan tak tahu kapan akan kujelang. Dan sesal pasti yang akan kubawa pulang.

Aku juga membaca sorot ketulusan dari binar di bola mata mereka, dari dua perempuan yang beberapa hari ini aku kagumi, rangkulannya mendinginkan gejolak di dada. Juga jabat tangan dari bapak-bapak yang ada. Pengakuan yang belum pernah aku terima membuat kumerasa ada.

Pertama kali aku memutuskan pergi ke tempat ini, aku sudah menyiapkan wadah yang sangat besaruntuk menampung segala ilmu dari semua calon guru-guruku. Aku tahu trainerku tidak hanya satu, pasti lebih dari itu. Semua yang akan aku temui, adalah calon guruku. Karena itu aku harus berlaku santun layaknya seorang murid kepada guru yang akan memberikan ilmu.

Ibu Amelia Hirawan, rektor di “Universitas Yasmin” ini yang sudah berkorban banyak demi aku bisa berangkat. Segala yang aku butuhkan berusaha untuk dipenuhi, aku terharu sekali. Tuhan mengirim Bu Rektor yang cantik luar dalam.

Jika Bu Amelia rektornya, maka Pak Edy Zaqeus adalah Profesor Doktor, pakar di bidang tulis-menulis yang tidak pernah merasa eman dengan ilmunya. Guru besar yang selalu bangga dengan keberhasilan para muridnya. Bahagianya mendapat kesempatan menimba ilmu darinya.

Tuhan juga melengkapi universitas ini dengan lima orang dosen luar biasa. Aku begitu kagum dengan ilmu yang dimilikinya. Ada Bu Ning Revive, teman sekamar yang selalu menghias muka dengan senyum ceria, membuat teman bicara merasa istimewa. Darinya aku mendapatilmu “MAU”. Ketika cobaan datang, dan kita menentang, alamat kesulitan dan bahaya akan datang. Marahlah, maka Tuhan akan mengirim soal ujian lebih besar. Tetapi ketika kita MAU menerima (bukan bisa), maka Tuhan akan menurunkan pertolongan. Terima kasih Mbak Ning, dalam dua hari ini aku benar-benar jatuh cinta padamu.

Adalagi dosen muda yang membuat aku membelalakkan mata ketika dia berkata, “Harus dimulai, harus…harus….” seperti di kalimat pertama tulisan ini, Pak Harianto Tian. Sungguh aku kaget, tidak menyangka bahwa melalui lisannya aku berani berdiri, berani bicara, dan bahkan mampu mengulanginya. Pengusaha muda, calon walikota yang luar biasa. Aku kagum padanya.

Dosen lain yang dalam dua hari ini duduk sebangku denganku, Bapak Libertus S. Pane, yang ahli di bidang perbankan, bidang lelang, dan bidang-bidang yang lain (aku kurang paham), memberiku kesan mendalam. Banyak ilmu aku gali, banyak pengalaman yang akan aku adopsi, salah satu yang aku catat dalam hati, “Bila pekerjaan itu suatu kesenangan, maka hidup adalah kenikmatan. Tetapi bila pekerjaan adalah tugas, maka hidup adalah perbudakan.” Aku tidak mau menjadi budak. Aku mau bahagia dunia akhirat… Jadi banyak permintaan nih…hehehehe… Buku Bapak “The Winner’s Attitude” menumbuhkan semangat, bahwa AKU BISA!

Satu lagi yang tidak kalah semangat, aku benar-benar kagum padanya, muda, ceria, dan pandangan selalu menyiratkan “bahagia”, Bapak Hindra Gunawan. Beliau berjasa memberikan pengakuan pada buku perdana saya yang berhasil terbit. Malu aku ketika pertama tahu bahwa Hindra Gunawan itu, seperti ini orangnya…hahahaha… Terima kasih Tuhan aku diberi kesempatan untuk duduk sebagai murid seorang pakar pendidikan yang luar biasa.

Dosen kelima Bapak Sabam “Skamur” Silaban yang menularkan energi positif, semangat pada murid manula ini. Komentarnya selalu mengena, membuat aku merasa ada, dan berguna. Terima kasih Bapak, jasanya tak akan pernah aku lupa.

Dosen lain yang tak kalah keren, yaitu para pegawai Hotel Yasmin Puncak ini, para peserta dari instansi lain, dan semua orang yang aku temui selama tiga hari ini. Mereka memberi pengalaman yang penuh warna, kaya rasa, dan sarat makna. Wajib aku berterima kasih pada mereka, yang telah memberi ilmu tak terhingga.

Tuhan tidak membuat isi dunia ini sia-sia, semua pasti ada manfaatnya. Dari sana aku memutuskan untuk belajar kepada Tuhannya manusia, melalui manusia ciptaan-Nya. Aku juga tidak belajar kepada alam, tetapi kepada Tuhan yang menciptakan alam raya, meraba apa maunya melalui segala yang diciptakan-Nya. Tuhan membuatku sampai di tempat ini, jelas ada tujuannya, Tuhan akan memberikan pelajaran yang sangat berharga.

Aku ini seorang pengamat, suka mengamati segala yang aku lihat. Dari sana aku punya kesempatan untuk belajar, dan mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan nyata. Jarang aku membaca segala teori, tetapi ketika aku membutuhkan solusi, Tuhan akan datang memberi. Seperti ketika aku diminta menulis sebuah artikel dan bingung mencari referensi, tiba-tiba seorang kenalan mengirim sms, “Tolong buka e-mail sekarang juga.” Setelah saya buka, ternyata isinya materi yang aku cari. Selalu ada getar di dada setiap turun “sinyal” yang dikirim Tuhan untuk kubaca.

Suatu hari Tuhan menegurku ketika aku akan berkata bohong pada seseorang. Saat ada nada panggil datang lewat telepon genggam, kuminta anak menjawab “tidak” pada mereka yang ingin jumpa dengan bunda, dan aku tidak berkenan menerimanya. Tapi apa mereka jawab?

“Kenapa telepon tidak dimatikan saja agar tidak ada kesempatan kita berbohong?” Deg!

Kucapkan terima kasih tak terhingga pada guru kecilku yang memberi ilmu. Tuhan mengirimkan sinyal “warning”melalui putraku yang masih 6 tahun saat itu. Hal-hal kecil tak terduga sering aku terima melalui orang-orang tercinta sebagai bentuk kasih sayang Tuhan pada hambanya agar terhindar dari bahaya.

Di tempat ini aku bertemu guru dengan segala rupa. Mereka memberikan ilmu tanpa kuminta. (Yasmin Puncak, 10 Mei 2014)

* Ninuk Budiarini adalah seorang guru SMA di Mojokerto, alumni workshop “7 Keys of Book Writing for Entrepreneurs” April 2013 dan peserta EZ Institute Writing Camp Mei 2014. Buku perdananya telah terbit dengan judul “Muridku Guru Terbaikku” (Elex, 2014).


Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>