Home » Alumni on Writing » Two Days Workshop: Sebuah Pilihan yang Tidak Pernah Kusesali

Two Days Workshop: Sebuah Pilihan yang Tidak Pernah Kusesali

EZ Institute Twitpic

Jessica Valentina Ananta

Jessica Valentina Ananta

Oleh: Jessica Valentina Ananta*)

Jumat malam tanggal 24 Januari 2014, saat itu sulit bagiku untuk memejamkan mata. Aku sudah tiba di kota kelahiranku tercinta. Hari itu kutinggalkan sejenak aktivitasku sebagai instruktur Kumon di Magelang dan “melarikan diri” ke kota Semarang untuk mengejar impianku sebagai seorang penulis artikel dunia parenting.  Ya, aku sangat tidak sabar menantikan apa saja yang menjadi “menu” materi tentang teknik menulis buku untuk hari esok. Sesungguhnya bukan rasa penasaran akan hari esok saja yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak. Rasa penasaran itu sepertinya juga sedikit digugat oleh rasa ketakutanku: Bagaimana jika Dave tidak bisa tidur tanpa “dibius” oleh puting susu ibunya? Benar, aku belum bisa menyapih anakku yang berusia 2,5 tahun itu. Atau lebih tepatnya, seharusnya aku yang harus disapih dari anakku. Oke, kataku dalam hati. Aku akan mengikuti kata hatiku untuk mengikuti workshop tersebut. Suara hati tidak pernah salah, dan aku percaya akan hal itu.

Sabtu pagi, 25 Januari 2014– Aku berangkat diantar anak dan suamiku. Kepada Dave kukatakan bahwa mama mau sekolah. Mama mau belajar, dan aku berpesan padanya agar anakku menjadi anak manis di rumah oma. Tanpa menunggu lebih lama, kulangkahkan kakiku menuju lobby Hotel Novotel. Baru sedikit peserta yang hadir, karena cuaca saat itu kurang bersahabat. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, semua peserta sudah lengkap dan workshop pun dimulai. Mataku mengobservasi 11 peserta lain. Sebelas rupa. Sebelas pemikiran. Sebelas karakter. Semuanya mengesankan, mengagumkan, dan membuatku makin bersyukur diberi kesempatan berkumpul bersama mereka semua.

Aku melihat potret wanita karier tangguh namun berhati lembut dalam diri Ibu Irsa Martini Adinoto. Wanita cantik nan jangkung ini adalah mantan kepala cabang salah satu bank terbesar di Indonesia, dan sekarang ia beralih profesi dan mengabdikan diri di dunia NLP. Tulisannya begitu indah dan menggambarkan keteguhan dan kecerdasan seorang wanita dari dua sisi: sebagai wanita pekerja keras dan ibu yang penyayang.  Sungguh bukan wanita karier biasa.

Lalu aku tidak kuasa untuk tidak mengekspresikan kekagumanku pada wanita rupawan bertubuh langsing dan memiliki kemampuan di atas rata-rata saat membuat cerpen. Rahel Yosi Ritonga namanya. Boleh dikatakan, ia adalah primadona di workshop kali ini. Pemilihan kata-katanya dalam merangkum puisi dan cerpen begitu dahsyat, bahkan sanggup mengobarkan api “Kepenulisan dengan  basis dan gaya berpujangga” terhadap para peserta lain. Sungguh  aku tidak bisa untuk tidak berdecak kagum akan keahliannya merangkai kata ala Kahlil Gibran :)

Di workshop kali ini juga kutemukan teman lamaku, mantan kepala sekolah internasional yang sedang menyelesaikan tesisnya. Jovita Muharjanti namanya. Dulu aku hanya mengenalnya sekilas sebagai sosok mahasiswi cerdas dan tanpa basa-basi. Sukar ditembus dan kukuh memegang pendirian. Namun di workshop kali ini  aku melihat Jovita laksana kerang mutiara: Keras di luar, namun lembut di dalam. Kepiawaiannya menangani anak-anak berkebutuhan khusus membukakan wawasan baru untukku, bahwa tidak ada komunikasi yang lebih efektif untuk membantu anak berkebutuhan khusus selain bahasa kasih. Bravo, Jo…. You are awesome!

Workshop kali ini juga mengenalkanku pada teman baruku: sang sekretaris luwes bernama Mbak Christini Tri Wulansari. Wanita yang ekspresif namun cerdas mengemukakan idenya dalam bentuk tulisan. Ketangguhannya sebagai seorang single parent membuatku bersyukur, bahwa wanita-wanita Indonesia adalah figur yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Selain seorang muslimah yang taat, ia pun memiliki toleransi yang tinggi terhadap orang non-muslim. Buktinya adalah ketika ia berkolaborasi dengan frather muda bernama Bagus untuk menulis biografi masing-masing. Aku melihat potret Indonesia yang indah dalam segala keberagamannya. Indonesia yang bermartabat dan damai.

Dua frather muda, pemikir-pemikir dari Girisonta pun tidak kalah hebatnya. Mereka menggambarkan sebuah dunia lain, tentang sebuah pengabdian dan pengamalan kasih terhadap kaum tersisih. Melalui tulisan dua temanku, frather Adrianus Bonifasius Riswanto dan Bagus, aku melihat sebuah gambaran nyata. Sebuah alasan bahwa kasih masih ada dalam dunia–bahkan diulurkan secara cuma-cuma terhadap kaum papa dan terpinggirkan.

Dalam kesempatan kali ini, aku berkenalan dengan psikolog industri perkembangan yang sudah menelurkan buah pikirannya dalam harian  Suara Merdeka. Sosoknya yang cantik mengingatkanku pada penyanyi Iis Dahlia, hanya dalam versi yang lebih trengginas. Ibu Esti namanya. Sungguh paket komplit : cantik dan pandai.

Dua wanita lain dari Surabaya juga membuatku terbengong-bengong saat mendengar tulisan mereka dibacakan dalam forum workhsop. Ibu Iie Astuti, seorang trainer dan motivator bagi perempuan telah berhasil memperlihatkan kecakapan dan semangatnya dalam membuat tulisan-tulisan berkualitas untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik melalui keluarga. Partnernya–Ibu Elok Damayanti pun tidak kalah bersaing dalam mendeskripsikan keindahan alam. Berbagai isu lingkungan hidup rasanya akan bisa beliau ulas dengan baik karena ibu yang satu ini adalah seorang yang sangat peduli dan mencintai alam Indonesia ini.

Teman baruku, seorang bidan multi talenta bernama Mbak Cahyaning Puji Astuti juga layak diacungi jempol. Ia adalah bukti hidup  bahwa survivor kanker bisa terus move on dan memotivasi banyak orang lewat pengalamannya yang luar biasa ajaib dan indah. Seorang guru musik berwajah manis dengan senyuman ramah  bernama Ibu Pauline Wonoadi juga berhasil mencuri perhatian lewat proyeknya untuk memberdayakan efektivitas otak melalui piano. Sungguh- sungguh karya yang tidak bisa diremehkan.

Tidak ketinggalan pula, seorang pengusaha yang berhasil membuat buku yang layak untuk dibaca. Pak Edy Darmoyo adalah sosok eksekutif yang humble dan concern dengan hubungan pribadi antar manusia dengan TUhan. Hmm, benar-benar kombinasi yang indah dan mengesankan.

Omong-omong soal mengesankan, aku juga ingin mengungkapkan kekagumanku pada sosok bintang tamu yang diundang dalam workshop ini. Sepasang suami istri yang terlihat begitu kompak dan saling mengasihi. Mereka dengan suksesnya berhasil membuatku iri dan menetapkan hati untuk bisa membina kehidupan rumah tangga yang harmonis seperti beliau berdua. Terimakasih Bapak dan Ibu Agus Setianto, atas inspirasinya dalam hidup berumah tangga.

Workshop ini adalah kado manis untukku di awal tahun 2014. Rasanya ingin bersua kembali bersama semua peserta dan kreator workshop ini. Terimakasih atas kesempatan ini. Tuhan menyertai kalian semua…[]

* Jessica Valentina Ananta adalah pemilik usaha Kumon, penggemar tulis-menulis, mencintai dunia anak, dan tinggal di Magelang. Ia adalah alumnus workhop “7 Keys of Book Writing for Personal Branding” di Semarang.


Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>