Home » Alumni on Writing » Om Bob Sadino, Selamat Jalan

Om Bob Sadino, Selamat Jalan

EZ Institute Twitpic

Elok Damayanti

Elok Damayanti

By Elok Damayanti*)

Tadi pagi, aku memasak sosis solo kesukaan Sima, sebagai bekal bepergian dengan kawan-kawannya. Adalah hal yang biasa merajang bawang bombai tipis-tipis, menumisnya, dan memasukkan daging giling yang aku beli dari supermarket. Adalah hal yang biasa pula memecah lima butir ayam negeri; tiga butir aku campur dengan terigu untuk adonan kulitnya, dan yang dua butir sebagai finishing sebelum digoreng.

Setelah selesai, aku segera menggoreng ayam goreng tepung  untuk lauk makan siang, dan bersegera mengantar Sima ke stasiun. Apakah ada yang istimewa? Tidak ada. Semua yang aku lakukan adalah hal yang biasa. Bawang bombai, telur ayam negeri, ayam pedaging, semua adalah hal yang biasa; begitu mudahnya aku temui di pasar tradisional sampai modern. Demikian juga daging giling; selalu tersedia di supermarket. Kemudahan-kemudahan yang aku dapatkan sebagai seorang ibu rumah tangga.

Semua itu adalah biasa. Namun, malam ini, tiba-tiba aku tersadar. Ada orang hebat di balik telur yang aku pecahkan selama ini; orang besar di balik bawang bombai dan daging sapi yang aku masak; orang luarbiasa yang aku kenal selintas dan membuatku kagum, dan beliau telah berpulang dan dimakamkan siang tadi…

Aku melihat pendar-pendar cahaya yang indah dari diri beliau. Memoriku terbuka. Belasan tahun lalu; saat awal pindah ke Jakarta, aku diberitahu bahwa supermarket di sebelah sekolahnya Dhira dan Sima, menjual sayuran dan buah import yang berkualitas bagus. Beberapa minggu kemudian, untuk membuktikan yang aku dengar, sepulang sekolah, Dhira dan Sima aku ajak untuk berbelanja di supermarket tersebut.

Ternyata benar. Memasuki teras supermarket, tertata rapi bunga-bunga segar dalam pot maupun bunga potong. Mawar, carnation, pom-pom, gerbera – semuanya tersenyum dan menyapaku ramah. Aku melihat banyak orang asing yang asyik berbelanja; ada yang membeli sosis sapi, ada yang memilih makanan kaleng impor, semua mahal menurutku, saat itu.

Namun, dari semua itu, yang paling membekas dalam ingatan adalah saat aku berkeliling dan menemukan gerai yang memajang sayuran dan buah. Aku terheran-heran saat pertama kalinya aku melihat dan memegang wortel impor yang besar dan cantik.

Belum  hilang rasa heranku, aku dibuat kagum saat melihat daun bawang super, melihat paprika merah, kuning, hijau. Atau melihat buah-buah yang belum pernah aku lihat. Kampungan? Udik? Saat itu; belasan tahun yang lalu; saat HP belum mewabah seperti sekarang; saat sosmed belum memikat orang untuk berkomunikasi; saat google belum lahir; saat informasi masih sulit didapat, semua yang aku lihat di Kem Chicks adalah hal yang hebat.

Dan, pernahkah kita bertanya; siapakah yang menjadi pionir dari semua ini? Telur ayam negeri,  apakah akhir tahun 1960-an sudah ada? Lalu siapa yang “melihat” peluang dan meminta anak ayam petelur dari Belanda? Yang mau belajar merawat anak-anak ayam itu dan mulai memasarkan telur-telurnya ke tetangga…

Ayam pedaging, siapakah yang jeli dan optimis untuk dikembangkan di Indonesia? Siapa pula yang dengan rendah hati, mau menerima ide pelanggan untuk belajar membuat sosis daging sapi, dan mendatangkan alat-alat modern dari Jerman?

Wortel import. Paprika. Bawang bombai. Daun bawang super. Jagung manis. Timun Jepang. Lettuce. Melon. Seluruh buah-buah import… Atau, camilan seperti kroket holland. Siapakah yang mendatangkan dari negara lain? Siapa pula yang mengimport benih-benih sayuran dan telaten mengajari petani untuk menanam dengan sistem hidroponik; yang membuat heboh – saat itu…  Atau yang memperkenalkan beras dan sayuran organik?

Sungguh, untuk seluruh pelayanan ini, aku merasa berhutang terima kasih kepada beliau. Dan, Indonesia Raya kehilangan salah satu putra terbaiknya. Yang banyak berbakti dan membawa perubahan besar yang menginspirasi. Yang melayani kebutuhan dapur dan menjaga kesehatan masyarakat Indonesia. Yang mensejahterakan petani miskin dan peternak. Yang bersemangat membagi ilmu suksesnya, belajar goblok dari Bob Sadino.

Dan aku ikut merasakan kehilangan. Selamat jalan Om Bob… Aku merindukan senyum, gaya bicara yang ceplas-ceplos, gaya pakaian yang nyentrik; kemeja dengan celana pendek, jalan pikiran Om Bob yang simple, serta terobosan-terobosan yang Om ciptakan. Semoga Allah mengampuni dan merahmati, juga menerangi dan mendekap Om Bob, dengan penuh belas kasih.

Malam semakin larut. Namun, aku masih terpukau memandang keindahan “lukisan senja” Bob Sadino. Orang sukses dalam menjalankan misi hidupnya dan meninggalkan nilai manfaat yang terus ada; selama orang masih memakan telur ayam negeri.

Aku pun bertanya ke dalam diri, bagaimanakah “lukisan senja” yang kelak akan kita persembahkan? Apakah saat kita berpulang, orang masih merasakan nilai keberadaan kita?

Surabaya, dalam malam yang hening
20 Januari 2015

*) Elok Damayanti adalah penggemar anggrek, penulis buku “Tersenyumlah Duhai Junjunganku”, dan alumni workshop “7 Keys of Book Writing for Personal Branding”.


Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>