Home » Alumni on Writing » Ikut Seminar dan Pelatihan, Ngapain…?!

Ikut Seminar dan Pelatihan, Ngapain…?!

EZ Institute Twitpic

Priska Devina Handoko - Penulis buku "Anakku Matahariku" (GPU, 2014)

Priska Devina Handoko – Penulis buku “Anakku Matahariku” (GPU, 2014)

Oleh: Priska Devina Handoko *)

Salah satu keuntungan mengikuti banyak seminar/workshop di luar kegiatan kantor adalah bisa bertemu dengan sosok-sosok luar biasa yang tak terduga. Bulan lalu, ketika saya mengikuti camp menulis untuk memaksa diri saya menyelesaikan buku pertama, saya bertemu dengan Ibu Rostiati, seorang wanita peneliti yang bekerja di LIPI sebagai ahli mikrobiologi. Pinternya dia kayak apa, wah, jangan ditanya lagi. Karena untuk bisa masuk ke LIPI tentunya adalah orang-orang terpilih dari universitas terkuat di Indonesia. Apalagi model seperti Ibu Rostiati yang sampai mendapat kesempatan tinggal di luar negeri. Pekerjaan saya sebagai sales asuransi memang memungkinkan saya bertemu dengan orang dari berbagai macam profesi. Namun untuk bisa bertemu dan berbincang dan menjadi teman dengan seorang peneliti, bukanlah kesempatan yang sering diperoleh.

Dalam workshop yang sama, saya juga bertemu dengan seorang ibu guru SMA yang mempunyai koleksi cerita nyata tentang murid-muridnya yang luar biasa menyentuh. Sang guru sendiri hidupnya mirip sebuah kisah sinetron. Keluarganya berusaha menjaga dirinya, karena vonis kesehatan serta kabar bahwa sisa hidupnya tinggal sedikit. Namun di pelatihan, semangat hidupnya menyala luar biasa dan kami semua, para peserta dan mentor, terhanyut dengan cara beliau menceritakan kisah-kisah yang akan ia tuangkan dalam buku yang sedang digarap.

Bu Ninuk, bukan hanya guru SMA biasa, ia adalah pencerita yang hebat. Perangkai kata yang memabukkan. Yang ajaib, selama di pelatihan, beliau dengan penuh kerendahan hati, selalu mengatakan bahwa ia senang sekali dan merasa sangat bangga bisa berada di antara orang-orang hebat dan pintar. Padahal, kami semua setengah mati mengagumi sosoknya.

Kemudian, di pelatihan menulis Sabtu kemarin, saya lagi-lagi kembali bertemu dengan sosok-sosok hebat dengan talenta menulis yang kuat. Ibu Lizzie, seorang dosen muda sekaligus psikolog cantik dengan kulit bening seperti pualam dan paras menarik, pembawaannya modis dan sangat talkative.  Tulisannya sarat motivasi, terstruktur, dan terasa sekali drive-nya untuk bikin orang lebih maju. Passion-nya adalah untuk membantu para kliennya, kalangan remaja yang sehari-hari berkonsultasi kepadanya. Tak diragukan lagi, beliau adalah sosok yang cerdas.

Kemudian ada Ibu Ning. Seorang konsultan dan pengajar untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus. Pada saat ia bercerita, kita seolah melihat keindahan dunia anak-anak special need yang ia asuh sehari-hari. Dia memiliki kisah-kisah luar biasa tentang anak-anak SDHD, autis, dan down syndrom. Terasa sekali cinta yang melekat pada diri sang pengajar ini. Saya seolah diajak melalang buana ke sebuah dunia baru dengan kisah-kisah yang ia tuturkan. Sebuah jendela baru untuk melihat kisah yang sebenarnya sering saya dengar, tapi tak pernah saya simak betul sebelumnya. Jika Tuhan menciptakan lebih banyak pengajar seperti Bu Ning, dunia anak-anak special need akan sangat tertolong.

Selama pelatihan, duduk di sebelah saya seorang ibu rumah tangga, Ibu Anna. Sangat biasa. Tapi ketika ia membacakan tulisan tulisan pendeknya, saya tidak bisa menutupi kekaguman saya pada rangkaian kata serta keindahan yang mewarnai kisah kisahnya. Gila, seorang ibu rumah tangga, bisa menulis dengan begitu cantik dan bermakna. Sungguh bukan ibu rumah tangga biasa.

Terakhir, menjelang tengah hari, hadir seorang wanita bernama Ola (Debora). Awalnya ia tidak terlalu menarik perhatian, tapi ketika ia mulai membacakan tulisannya, semua orang yang hadir pasti setuju, ia adalah makhluk pintar, berempati, kaya akan rasa, dengan tulisan yang mengesankan. Saya sungguh beruntung berada di antara sosok-sosok insipratif seperti mereka.

Di workshop menulis kali ini saya agak nakal, karena saya tidak melakukan semua tugas yang diberikan mentor dengan baik. Pikiran saya sibuk dengan buku saya yang tidak selesai-selesai. Hati saya gundah gulana karena memikirkan dummy buku yang tergeletak tanpa ada kejelasan kapan akan menjadi buku beneran untuk diterbitkan. Tujuan utama saya mengikuti workshop Sabtu kemarin adalah mendapatkan kembali semangat dan motivasi untuk menulis, terutama dari sang pengajar, Edy Zaqeus.

Dan memang benar, saya mendapatkan banyak ide dan pencerahan. Baik dari Mas Edy sebagai trainer maupun dari para peserta lain. Tapi kesan paling kuat yang saya dapatkan di worskhop itu adalah, ketulusan luar biasa dari sang pengajar. Terasa sekali, beliau benar-benar ikhlas dalam membagi ilmunya. Dengan rendah hati, ia membagi pengalaman dan informasi dalam sesi sehari penuh tersebut. Walaupun pesertanya tidak terlalu banyak, beliau tetap konsisten memberikan yang terbaik.

Dan, untuk orang seperti saya yang typical sentimental dan sensitif, keiklasan pengajar di kelas yang saya ikuti, sangatlah  penting. Ketulusan pengajar selalu berefek membuat diri saya jauh lebih terbuka menerima hal-hal yang sampaikan di kelas. Well, kadang, memang ada pengajar yang hebat, tapi sombongnya minta ampun. Itu bikin kita enek. Namun sosok Mas Edy adalah sosok pengajar murni yang tulus dan baik hati. Tidak rugi masuk ke kelasnya.

Di setiap awal tahun, saya selalu punya list rencana seminar/workshop apa saja yang ingin saya ikuti pada tahun tersebut. Oleh karena itu, hampir tiap tahun saya berkesempatan menambah daftar teman. Beberapa orang yang saya temui di seminar menjadi teman baik dan di kemudian hari, terbukti banyak membantu saya dalam pengembangan diri dan informasi.

Misalkan, Pak Ricardo yang saya temui di pelatihan hypnotherapy. Suatu ketika saya berkesempatan mengunjungi rumahnya, saya terkaget-kaget melihat belasan lukisan mahal bergantung di dinding rumahnya, ramai mirip galeri. “Kok bisa ya…? Orang yang masih begitu muda bisa kaya raya seperti itu?” Kalau bukan karena berkenalan di pelatihan dan memiliki guru yang sama, saya tidak yakin bisa punya kesempatan mengenal sosok muda sukses seperti beliau.

Atau ketika saya bertemu dengan Sjam, yang sekarang menjadi sahabat saya. Sjam buat saya adalah teman ajaib yang punya kemampuan melihat (menerawang) kondisi penyakit di tubuh seseorang. Dia juga seorang kawan yang bisa dijadikan teman curhat. Kadang ia galak setengah mati dan rada memaksa bila ia merasa sesuatu adalah untuk kebaikan kita. Namun, di saat sedang kumat jahilnya, ia jadi teman ngocol yang luar biasa. Boleh dibilang, di pelatihan pula, saya mendapatkan teman yang menenangkan dan dapat dipercaya seperti Sjam.

Atau Agus Eko, anak muda dari Yogya, pengusaha, pemilik pondok pesantren, dengan kemampuan menerapi  yang luar biasa. Kasus-kasus yang ia tangani sungguh mengundang keheranan dan decak kagum. Bayangkan, ia pernah bertemu dengan seseorang korban kecelakaan di jalanan yang tangannya putus, namun seketika itu, ia bisa menenangkan dan membuat orang tersebut mati rasa, tidak merasakan kesakitan. Padahal, darah sudah berceceran di mana-mana dan bisa bikin trauma yang melihat. Ia juga banyak membantu korban kriminalitas, bullying, para penderita penyakit berat dan aneh, dengan kemampuannya yang bikin kita geleng-geleng kepala. Sungguh tak terduga dan kreatif. Bisa punya teman seperti ini kan jarang-jarang?

Saya juga pernah bertemu dengan seorang gadis muda yang luar biasa saat seminggu mengikuti sesi meditasi di Bali. Gadis itu dikaruniai kemampuan indra keenam dan fengshui. Ia bisa melihat kondisi rumah seseorang yang baru ia kenal, padahal rumah orang tersebut ada di kota lain. Saran dan informasi yang ia berikan membuat orang-orang takjub, “Kok bisa ya dia tahu ya sampai sedetail itu tentang rumah gue? Kok biasa ya dia tahu, di bawah tangga rumah gue ada apa, kok dia bisa tahu ada ruangan gelap di sebelah kanan rumah saya? Wong kenal saja barusan…?” dan lain-lain.

Buat yang senang kisah-kisah paranormal dengan setting betulan, gadis ini gudang cerita, karena dia pernah mengalaminya sendiri. Selama sesi meditasi tersebut, Emil, nama gadis tersebut, laris manis dikerubuti sesama peserta yang penasaran hahaha….

Jika berbicara tentang teman teman yang ditemui selama pelatihan, seminar, atau workshop, tentu saya mesti bicara tentang sosok-sosok pencerah hidup, para guru di training-training yang saya ikuti. Misalkan Bapak Merta Ada, seorang penyembuh dan meditator yang terkenal dari Bali. Yang bikin saya terkejut ketika pertama kali bertemu adalah kaki beliau yang terkena polio. Selama bertahun-tahun, saya membayangkan sosok yang berbeda.

Banyak teman saya mengagumi sosok beliau dan itu memompa semangat saya mengumpulkan keberanian mengikuti sesi tapa brata yang beliau selenggarakan di Bali. Seminggu harus puasa bicara, puasa nonton tivi, puasa membaca apa pun, adalah hal yang tidak mudah untuk makhluk seperti saya. Seminggu di Bali kegiatannya adalah harus bangun jam 5 pagi, lalu meditasi beberapa sesi, sampai jam 9 malam!

Susah ya..? Jangan dibayangkan, dijalankan saja, bisa-bisa Anda ketagihan. Saya saja akhirnya mengikuti sekali lagi sesi tersebut. You will find peace at there, friend. Kisah tentang Bapak Merta Ada adalah kisah tentang dimensi kehidupan lain. Tentang kebaikan, perilaku sehat dan bijak, keajaiban, kisah makhluk lain selain manusia, kesembuhan, dan ketenangan hidup.

Karena pelatihan yang saya ikuti, saya juga berkesempatan bertemu dengan Bapak Adi W. Gunawan. Beliau adalah trainer dengan kepercayaan diri yang luar biasa tinggi. Saya beruntung bisa berkunjung ke rumahnya dan melihat koleksi bukunya yang ditata rapi dalam rak-rak besar perpustakaannya. Juga bisa mengenal istri dan melihat tiga putrinya. Pak Adi adalah sosok besar dalam arti postur tubuh yang sebenarnya. Namun, ia juga bisa melucu dalam seminar-seminar yang ia bawakan. Murid-muridnya tersebar seantero nusantara. Ia seorang akademik yang logis dan penulis buku best seller yang sangat produktif. Buku-bukunya luar biasa. Saya suka membacanya.

Terdamparnya saya di dunia menulis akhirnya membuat saya berani mengumumkan pada diri saya sendiri bahwa tugas saya di bumi ini adalah: menulis dan mengajar. Dan, ini adalah berkat seseorang putra Indonesia yang sangat saya kagumi, Bapak Andrias Harefa. Saya seribu persen mendukung visinya untuk membawa Indonesia ke masa depan yang lebih baik, dengan menciptakan sejumlah trainer berkualitas, dan penulis buku andal. Sosoknya menghipnosis saya dan berhasil meyakinkan saya, bahwasanya ada lho orang pintar yang baik, yang benar-benar cinta negeri ini, dan mau berkarya sungguh-sungguh untuk bangsa ini. Saya merasa terhormat bisa mengenal beliau sebagai salah seorang pengajar saya.

Di luar dari semua nama yang saya sebutkan, masih berderet puluhan nama lain. Nama-nama yang telah menyumbangkan waktu, ide, dan suntikan motivasi dalam hidup saya. Saya amat berterima kasih pada mereka dan tidak pernah melupakan jasa mereka: para trainer, mentor, pelatih, dan guru saya.

Saya menulis ini untuk berbagi pada siapa saja yang membaca ini, bahwa sangat penting untuk kita meluangkan waktu untuk belajar di luar kewajiban kita pada sekolah, kuliah, atau sekadar tugas kantor. Pembelajaran yang menyenangkan, pertemanan yang luar biasa, pengalaman berharga, sangat bisa kita dapatkan di seminar/workshop.

Memang tidak semua orang seperti saya, yang lebih rela membayar jutaan rupiah demi sebuah seminar daripada membeli tas Hermes di mal. Tapi, saya merasa beruntung mendapat hobi seperti ini. Saya harus akui, diri saya hari ini sungguh berbeda dengan saya belasan tahun yang lalu. Pola pikir, cita-cita, keberuntungan, penghasilan/materi, ilmu serta motivasi, adalah rangkuman hal penting yang saya peroleh selama ini dengan menukarkan sejumlah waktu dan investasi di seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan tersebut.

Dan, jika Anda tanya kepada saya, sampai kapan saya akan lakukan ini, maka saya akan bilang, “Saya akan lakukan itu terus, seumur hidup saya. Saya akan, belajar sampai mati…!”[]

Jakarta, 3 Februari 2013 – Central Park, MayStar Restourant.

* Priska Devina Handoko adalah seorang financial planner, agen asuransi, trainer, dan penulis. Priska adalah alumni workshop “Write Your Book Write Your Life” dan “7 Keys of Book Writing for Personal Branding”. Priska adalah penulis buku “Anakku Matahariku” (GPU, 2014).

 


Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>