Home » Alumni on Writing » Di Tebing Saint Antonia Aku Berbicara dengan Malaikat Tuhan

Di Tebing Saint Antonia Aku Berbicara dengan Malaikat Tuhan

EZ Institute Twitpic

EZ Institute

Rahel Yosi Ritonga

By: Rahel Yosi Ritonga*)

“Kata pujangga itu, Ayahku adalah yang Tuhan pilih sebagai tujuan keberadaanku di dunia ini, sedangkan suamiku adalah yang telah dipilih dunia untuk menjadi tuanku sampai akhir hidupku,” kataku pada Malaikat Tuhan.

Kami berada di ketinggian di atas tebing Saint Antonia. Aku kedinginan, hanya memakai selapis jaket katun yang kubeli sewaktu aku mampir di Paris. Tidak mau aku memakai jaket kulit. Aku seorang penyayang binatang.

Kulihat Malaikat Tuhan dengan jubahnya yang berkilau, aku bahkan tidak bisa menjelaskan apa warnanya. Bersinar-sinar menyejukkan.

Kalau seorang Malaikat Tuhan saja jubahnya seperti ini, bagaimana dengan Tuhan?

“Kemarilah, duduklah bersamaku disini. Jangan takut jatuh. Aku, dan sepuluh Malaikat yang saat ini tidak kau lihat, akan menangkapmu kalau kau terpeleset dan jatuh,” ajak Malaikat Tuhan sambil duduk di tepi tebing yang berpasir coklat halus seperti brown sugar.

Saat Ia duduk, separuh dari kedua sayapnya yang besar terkulai di tanah.

Aku menghampirinya dan duduk.

“Dengarkan kekasih jiwaku, dengarkan baik-baik. Jiwamu sangat manis seperti anggur Yerusalem, setiap syair yang kau tulis adalah seperti percikan embun di Taman Eden. Aku bahkan bisa melihat mahkota bunga mawar putih melingkar di kepalamu. Jadi itu artinya kau punya tiga puluh lusin, bahkan lebih, cinta, kesabaran, kesetiaan, melayani, mematuhi dan mengerti.”

Lanjutnya dengan suara yang semerdu alunan musik Johann Sebastian Bach, “Aku membawa pesan Tuhan. Aku hanyalah seorang pembawa pesan. Pelayan Tuhan di Surga.”

Satu sayapnya, yaitu yang sebelah kiri, memeluk tubuhku yang kedinginan dan bergetar. Entah karena suhu pegunungan ini atau karena kutahu ada begitu banyak Malaikat Tuhan yang tidak kulihat, berjaga-jaga di tebing-tebing ini. Seperti di film City of Angels.

“Hei, bagaimana dengan Ayahku dan Ibuku? Siapa yang akan menjaga mereka saat aku bersama pria muda yang kata Tuhan adalah jantung hatiku?”

“Para Malaikat Tuhan akan membangunkan Ayah dan Ibumu di waktu fajar, bernyanyi untuk mereka hingga gelap datang, sampai musim berganti, dan sampai akhir dunia. Para Malaikat akan berjaga-jaga dan mengingatkan Ayah dan Ibumu akan keberadaanmu di dunia ini.”

Hening. Aku hanya mendengar suara angin diantara gunung-gunung dan tebing ini.

“Kau lihat mata air di tebing sebelah sana?” kataku menunjuk ke salah satu tebing yang paling curam di sebelah timur, “Airnya sebening kristal. Pohon Ek diatasnya memberi kehidupan disitu,” kataku mengalihkan.

“Ah, well, aku tidak tahu,” kataku melanjutkan.

Malaikat Tuhan mendengarkan.

“Tapi aku akan belajar memberi semua yang dapat diberikan seorang wanita lemah pada laki-laki yang kuat. Atau bisa jadi dia yang lemah, sehingga aku harus kuat. Seperti pohon Ek yang disana itu,” jawabku.

Seekor rajawali besar berwarna hitam dengan semburat putih, menukik tajam. Suaranya memekik kencang, memecah keheningan seakan-akan memberitahu bahwa Tuhan telah ikut mendengarkan.

Aku menolehkan wajahku ke Malaikat Tuhan, “Berikan sayapmu yang satu lagi. Aku masih ingin duduk disini bersamamu sampai matahari terbenam.”

Dan aku duduk dengan Malaikat Tuhan sampai terbenamnya matahari, bahkan sampai subuh datang. Ketika Ia akhirnya meninggalkanku.

Tidak seperti waktu Tuhan naik ke Surga, tetapi menghilang ketika memelukku dalam dekapan kedua sayapnya yang lembut.[RYR]

#Cerpen sangat pendek yang kutulis untuk Ulang Tahun Pernikahanku yang ke-5, esok 31 Januari 2014.#

*) Rahel Yosi Ritonga adalah alumnus Fakultas Sastra Unika Soegijapranata dan University of Twente, The Netherlands.

 


2 Comments

  1. :) says:

    Just like a pro, miss. This is a masterpiece. I like your writing :)

  2. Fiola Rosabella Ritonga says:

    Sukaaa sekaliiiii . Simple tp berarti :)

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>